12:15 siang ini, persis seperti 3 minggu lalu saya lagi-lagi menyempatkan diri untuk launch di salah satu rumah makan di Jambi. Rumah makan ini biasa di kunjungi beragam karakter usia dari yang tua, Dewasa, Remaja bahkan anak2. Tapi Inti obrolannya bukan tentang rumah makan dengan konsep pujasera. Bukan juga menu yang akan kita bicarakan. Karna menu yang biasa di pesan nggak pernah berubah, cukup cumi asem manis aja. Di makan siang-siang, itu yang bikin segerrrrrrrrrrrr.
Nah ditempat makan ini, saya di temukan kembali dengan satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, anak kembar berusia 3 tahun. Seketika itu juga saya jadi inget Abang Sulthan yang kini baru 4 tahun. sijagoan yang kerap memiliki karakter hyper active.
Mari kita bicarakan dua anak yang berusia 3 tahun yang saya temui. Ridho Daus usianya 3 tahun dan Daus Ridho usianya 3 tahun juga. kedua anak ini begitu hebat. Cekatan, lincah bahkan tak memiliki rasa malu untuk menghampiri meja-meja lainnya baik yang masih kosong ataupun meja yang memang sudah diduduki pengunjung rumah makan. Anak ini berlari kesana kemari, berteriak kegiarangan, melompat begitu aktive. Si Ayah yang sejak turun dari mobil masih juga berbicara dengan ponselnya sementara si Ibu begitu akrab ngobrol dengan pramu saji dan nampak sedikit bingung dengan menu yang ditawarkan. Aktivitas anak ini masih juga aktive di luar pengamatan kedua orang tuanya. Tak lama kemudian Ridho tiba2 menyandarkan tangannya keatas meja persis di depan mataku. tangannya berusaha meraih sedotan yang terletak di tengah meja. dan sekejap Daus berusaha meraih lebih dulu, sampai keduanya saling berteriak dengan umpatan kata-kata keluar dari kedua anak kembar ini. “cedotannya punya adek…ini punya adek” dengan nada cadel dan ekspresi wajah seolah2 ingin ada satu pengakuan dari saudara kembarnya.
Keduanya adu mulut, Hanya karna sebuah sedotan yang di ambil dari atas meja saya. Saya akhirnya mencoba mengakrabi dua anak ini. “Adeeeekk…!” suara saya membuat mereka terdiam, padahal nada saya tidak membentak. “sini sayang….ada yang mau duduk sama om nggak?” kedua anak ini terdiam sesaat setelah asik dengan dunianya. salah satu dari sikembar inipun akhhirnya berkata lebih dulu….”Om cedotanna om…beyeh minta atu gak om…” saya mengambilkan satu sedotan lalu memberikannya langsung. sampai akhirnya beberapa hidangan saya di cicipi kedua anak ini. kami ngobrol persisi seperti satu keluarga, seorang ayah dengan dua anak lelaki active. saya bangga karna tak sedikitpun di wajah mereka ada perasaan malu untuk bicara dan makan dengan saya. Sementara orang tuanya masih tetep sibuk dengan urusannya masing-masing.
Tak seberapa lama…tibak2 terdengar suara dari balik punggung saya….”Ridho..Daus….nggak boleh gitu…..itu punya Om….Daus makannya di meja sana ya…..sama papah dan mamah….” kata ibunya, dengan sedikit rayuan. Tapi anaknya masih nggak mau juga meninggalkan meja saya. ” si anak yang lebih dulu mendapatkan sedotan….bicara lebih dulu menimpali ibunya….”gak mau” katanya singkat. Dengan situasi seperti ini terus terang bikin saya bingung….dengan tersipu malu dan bingung saya lagsung bicara. “Mbak…biarin aja mbak…saya kan belum pernah ketemu anak2 seperti ini…” gumam saya. “Aduh mas maaf ya mas….maaf banget, anak2 saya agak nakal!” sahutnya menjelaskan, dengan lirih. “Namanya juga anak2 mbak…sudah biasa…biarin aja!” Obrolan kami hanya sesaat dan si ibu muda ini langsung pamit sambil membungkukan badan sebagai pernyataan maaf atas kelakukan anak2 nya.
Dasar namanya anak2, belum selesai kami bicara ….kedua anak ini langsung pergi, yang satu mendekati bapaknya yang satu masih berputar2 mengelilingi posisi ibunya, mata anak ini menatapku dan ia masih berdiri sambil menggigit sedotan.
Dari pembicaraan tersebut saya memperoleh insight, bahwa apa yang kita lakukan secara spontan, dengan sering, tapi juga dengan senang dan tanpa kesulitan, bisa jadi merupakan petunjuk adanya bakat. Saya melihat banyak bakat di kedua anak kembar ini, salah satunya adalah keberanian. Teriakannya yang lantang. bahkan sifat nya yang supel yang menurut saya adalah given.
Inspirasi yang saya dapat saat anak kembar berebut sedotan, dalam diri kedua anak ini punya Pilihan untuk menyalurkan “kelebihan” energinya, bisa menjadi sinyal ke mana sebenarnya bakat dan panggilannya. Ada yang berbakat bicara seperti anak kembar tadi misalnya, yang jika dibiarkan memilih, pasti akan lebih suka menghabiskan waktunya untuk mengobrol bersama mainannya, menjadi “dalang” bagi robot-robot koleksinya. bahkan nggak peduli lagi dengan orang tuanya yang sudah lama menunggu untuk makan.
Saya jadi inget diri saya sendiri, jaman kanak-kanak dulu, yang cenderung pendiam, bikin coretan atau mewarnai di majalah Bobo, Si kuncung, atau setiap minggu sore menunggu pak Tino Sidin menyebutkan nama saya yang tak pernah di sebut2. Bagus lagi bagus lagi. ini gambar dari Bagus….Kemana beliau ya….?? Reminding stories dengan masa lalu, saya jadi inget betapa berbedanya saya dengan anak2 sekarang terlebih dengan anak2 yang sempat bertemu di tempat makan siang ini, mereka begitu aktive dan energic. Kalau di bandingkan dengan jaman dulu, saya masih tetep aja dalam koridor pengawasan ORTU. (apa kabar ma & abah).



Anak tercetak seperti cetakan yang dibuat oleh ortu…nah..sekarang …cetakan seperti apa yang sudah pakde buat untuk anak2 tercintanya?
Pak De, sangat menyentuh! jadi ingat kampung halaman. Gulai tampoyak ! euy, pake ikan patin… aha. Suka sekali saya. Ingat ibu di rumah, Sarolangun Jambi…..
Soal anak-anak. wah, anak saya cewek, aktif minta ampun. kidal. kayaknya saya harus hati-hati.
Thanks before…
Hello webmaster
I would like to share with you a link to your site
write me here preonrelt@mail.ru