Katanya pemimpin yang baik harus lah bla bla bla bla. Harus bli bli bli bli, diharapkan pimpinan dapat menganalisa dengan baik akan kekuatan dan kelebihan perusahaan tetapi umum sekali seorang pemimpin sering lemah menganalisa kelemahan dan kekurangan perusahaan. Bahkan ada juga pimpinan yang menipu dirinya sendiri dengan mengatakan semuanya berjalan dengan baik bahkan sampai pada saat terakhir dan akan runtuh. Pimpinan macam apa itu ya….Kebangetan kalo yang ini!
Mengutip dari EXECUTION The Discipline of Getting Things Done. Ada tujuh ciri dasar pimpinan yang mampu melakukan eksekusi dengan baik adalah: Mengenal dengan baik akan karyawan dan bisnisnya; Sadar akan kenyataan lapangan; Mempunyai target dan prioritas yang jelas; Mengikuti perkembangannya; Memberi penghargaan pada yang menjalankan pekerjaan dengan baik; Mampu mengembangkan karyawan; dan tahu akan kelebihan dan kekurangan dirinya sendiri. isinya tuh semua baik.
Saya akui sendiri bahwa saya adalah orang yang selalu bertanya dalam setiap kesempatan guna memuaskan rasa ingin tahu. Bila ditanya apakah pekerjaan saya di perusahaan? saya tentu akan menjawab semua tugas yang saya kerjakan adalah ini itu ini itu dan ini itu…..Kondisi seperti ini, jika dijelaskan masihkan pimpinan kita nggak ngerti kerja kita seperti apa? jangan-jangan malah menuding kita nggak mengerjakan apa2. ini kasus pertama.
Beberapa kasus yang mungkin juga pernah anda hadapi ketika pimpinan anda minta ini dan itu. kadang membuat kita kesal. padahal jobdesk belum juga di tangan kita, sementara kerjaan kita numpuknya setengah mati, dari mulai handle urusan kecil sampai handle kerjaan orang karena orang yang handle itu pekerjaan lagi cuti misalnya. Siapa yang harus di salahkan memenuhi keinginan bos yang harus semuanya berjalan sesuai keinginannya. Padahal Job Desk dan Rule of game nya belum kita terima. Betapa ribetnya dengan tuntutan seperti itu.
Kasus lainnya…Kita di tuntut untuk bisa mengerjakan apapun…tapi pimpinan tidak mengajarkan kita untuk bisa. Dimana kita bisa belajar tentang keinginan pimpinan dan kerjaan lainnya? sementara sang pemimpin tidak mengajarkan itu. Kita sibuk dengan tugas2 besar dan kecil lainnya? Harus kah kita di salahkan juga? Dengan ketidak mampuan kita itu? Parahnya lagi ketika ide besar bermunculan, ide itu di patahkan dan bukan dikembangkan agar ide nya makin mateng. Ketika ide baru muncul eih..malah datang sabotase dalam bentuk kritikan tanpa memberikan solusi yang akurat atau ide yang jauh lebih baik.
Pernahkah kita bertanya apakah pemimpin berpikir tanpa henti dan tidak ragu memberikan ilmu? Bukankah Pemimpin yang baik tentu memiliki skill yang bersifat “generalisasi”. Artinya gini, pemimpin tersebut memiliki wawasan yang luas dalam aplikasi kerja sehari-hari. Nah, ketika mendapati anak buah yang kesal karena mengalami kegagalan dalam mengerjakan tugasnya tentu pemimpin harus menjadi solusi. Ketika anak buah bingung untuk menyelesaikan tugasnya tentu pemimpin-nya akan menjadi sarana pengaduan. Bila anda menjadi pemimpin yang ternyata mengerti solusi cara menyelesaikan masalah dari anak buah tentu akan sangat menguntungkan. Bukan malah berargument menyalahkan berasa dirinya benar tanpa melihat kondisi bahwa anah buah tuh belum ngerti. Mematikan ide tanpa memberikan solusi.
Jika posisi anda di kantor bukan orang di posisi 1st management. Seringkali saat kita membawahi beberapa anak buah dalam team, taro kata kita ada di posisi 2nd management. Nah….Ketika hendak mengerjakan suatu tugas tentu setiap anak buah memiliki tugas masing-masing. Ketika anak buah tidak dapat menyelesaikan tugas yang diberikan tepat waktu tentu pemimpin harus mengambil alih, Iya Toh…? Istilahnya ada Pertanggung-jawaban kepada atasan yang lebih tinggi yang harus dilakukan oleh pemimpin team tersebut. Biasanya Pemimpin harus mampu memberikan alasan kuat yang mendasari penyebab kegagalan dari staffnya. Alangkah baiknya bila pemimpin juga ikut membantu serta memperbaiki hasil kerja anak buahnya. Bukan malah sianak buah hanya diem dan tersenyum lebar di belakang dan si 1st managment memaki2 2nd managment….Siapa yang harus di salahkan? Kegagalan di pihak mana sampai peristiwa semacam ini dapat terjadi di lingkungan kantor? Kita yang salah masuk kantor atau pimpinan tidak sigap untuk menyikapi problema dikantor?
Kasus lainnya nih, Seringkali terdengar beberapa anak buah mengeluh terhadap pemimpinnya. Biasanya adanya otoritas yang muncul karena sang pemimpim tidak mau tahu apa yang akan dilakukan oleh anak buahnya. Pokoknya tugas yang diberikan harus selesai pada tanggal sekian, jam sekian! titik!. Bukankah itu merupakan faktor yang akan menghancurkan rasa hormat dari staff. Bukankah akan lebih baik jika memberikan perhatian yang berkala dan teratur. Bukankah akan lebih baik kita mengunjungi masing-masing anak buah kita pada saat mereka bekerja. Bukankah lebih baik memantau kegiatan mereka dan sesekali berikan komentar yang membangun atas hasil kerja mereka saat itu. Siapa yang akan disalahkan nanti jika bos hanya senangnnya duduk di meja sendirian? tanpa mengetahui kesibukan anak buah.
Kasus lainnya berhubungan dengan waktu, Pertanyaan mendasar untuk kita adalah Apakah Kita menghargai waktu? karna Kinerja staff akan mengacu pada pemimpinnya. Bila kita dalam bekerja terlihat rajin, sibuk, ulet dan keras tentu akan memberikan inspirasi bagi orang-orang sekitar kita untuk menirunya. Adanya sifat sungkan untuk malas akan terbentuk bila kita membiasakan sibuk dan rajin pada tiap jam-jam kerja kita. Disiplin terhadap waktu menjadi sangat sensitif bila kita sendiri juga tepat waktu dalam setiap pekerjaan. Haruskah membuat aturan jika pimpinan telat masuk kantor? Baguskah kita menyalahkan kesalahan pimpinan kita hanya karena telat masuk kerja?
Seberapa renggang hubungan kita dengan bawahan kita di kantor? Pernahkah menciptakan suasana hangat? Contoh paling mudah adalah menyempatkan diri kita untuk makan siang bersama mereka. Kemudian menciptakan suasana baru sehingga tidak ada sekat dan semua memiliki posisi yang sama yaitu manusia biasa yang butuh makan. Apakah kita ini low profile atau tidak jelasnya itu bukan kita yang memberikan pengakuan tapi anak buah sendiri yang nantinya memberika julukan.
Dengan kondisi seperti ini, mudah2-an kita bisa sabar meluruskan yang keliru dan tidak lagi segan untuk terus mengasah diri dan pribadi kita menjadi seorang pemimpin yang layak bagi perusahaan kita kelak. Dan mendapatkan predikat pemimpin yang baik di hati para staff. Mari, kita ukur diri kita apakah kita sudah mendapatkan predikat tersebut atau belum? Jika belum haruskah kita menyalahkan staff kita ketika mereka berbuat kesalahan yang masih dapat di tolerir? atau menyalahkan bos karna tidak memiliki kerangka kerja atau jobdesk untuk kita??



Wah kasusnya seperti pernah menimpa diri saya PAK,…kadang ide jadi hambar, ketika ide itu terkapar ditangan Bos yang hanya bisa menyalahkan tanpa memberi solusi,….
Kadang sakit hati,…tapi hanya bisa dimaklumi.
nah… nah…. gimana solusinya kalo 2nd management-nya ga jalan… trus 1st management “terpaksa” harus berurusan langsung dengan bawahan? bawahan depress… pemimpin jg depress… kadang kesellllll…. loh nih 2nd manager ngapain aja?