
Dirgahayu Indonesiaku,
Dirgahayu Negeriku,
Smoga Makna Kemerdekaan yang dimaksud bukan kebebasan menuju kaum liberalis.
Merdeka!!
Re-Inventing INDONESIA
DILIHAT dari segi geografis dan demografis, Indonesia tampak seperti perahu besar yang penumpangnya amat padat dan beragam.
Terdiri atas sekitar 13.000 gugusan pulau besar dan kecil dan didiami lebih dari 220 juta jiwa dengan sekitar 200 etnis yang berbeda membuat Indonesia menjadi negara keempat terbanyak penduduknya di dunia setelah China, India, dan Amerika Serikat. Sayang, ibarat perahu besar, Indonesia kini jalannya limbung, bocor di sana-sini, dan tidak jelas ke mana arahnya.
Reformasi pada awalnya diyakini akan mampu mengubah kondisi bangsa menjadi lebih baik. Kini keyakinan itu berubah menjadi harapan dan lamunan. Psikologi pesimisme bagaikan virus yang menyeruak dan menyebar melalui media massa.
Setiap saat masyarakat dijejali beritaberita buruk yang mencemaskan,mulai dari pejabat korup, konflik internal partai, konflik ekses pemilu, konflik antaretnik dan agama, konflik internal agama, gerakan pemisahan diri dari Indonesia, hingga penguasaan bangsa asing terhadap sumber-sumber migas dan nonmigas negeri ini.
Suasana batin yang galau itu menjadi lebih pengap lagi oleh berita kekeringan, gagal panen, infrastruktur jalan yang semakin rusak, serta banyaknya parpol yang tidak jelas identitas dan misinya.
Begitu menguatnya psikologi pesimisme menjangkiti penduduk negeri sehingga bangsa Indonesia hampirhampir tidak mampu lagi mengapresiasi secara cerdas melimpahnya potensi alam,fauna,flora,laut serta kebudayaan yang menjadi objek kekaguman dan kecemburuan bangsa lain.
Kita masih mengidap sindrom pascakolonialisme yang cenderung merasa rendah diri dan naluri bawah sadar untuk cepat marah dan memberontak sehingga mengalahkan nalar sehat dan pemikiran visioner.
Membangun Optimisme Berbangsa
Sebuah bangsa besar senantiasa memerlukan pemimpin yang berpikir dan berjiwa besar. Mari kita kenang dan hayati kembali sepenuh hati bahwa bangsa dan negara Indonesia ini dirintis, diperjuangkan dan diproklamasikan oleh putraputri, pejuang terbaik bangsa ini yang memiliki spirit, cita-cita luhur, dan tekad untuk menjadi bangsa yang berdaulat dan bermartabat dalam pergaulan dunia.
Inilah yang tersirat dalam judul Reinventing Indonesia, yaitu menemukan kembali citacita luhur, optimisme dan mimpi besar serta sikap negarawan para founding fathers. Dalam kaitan ini, maaf, saya ragu, apakah para pimpinan parpol yang bernafsu untuk ikut pemilu masih juga memiliki semangat dan tekad sebagaimana para pejuang dan pendiri bangsa dan negara ini? Di tengah suasana pesimisme ini,mari kita bangun optimisme berbangsa dengan kekuatan gagasan, integritas, dan kesediaan untuk berkorban demi rakyat.
Indonesia yang kita impikan (the imagined Indonesia) adalah sebuah cita-cita moral, politik, dan peradaban yang masih jauh berada di depan, bukannya warisan masa lalu yang sudah jadi dan selesai. Dengan demikian, yang namanya Indonesia bukan sekadar sebuah realitas agung (grand reality) dalam wujud geografis dan bentuk formal sebuah negara, melainkan amanat dan cita kebudayaan serta peradaban yang harus selalu dijaga dan diperjuangkan.
Jadi, Indonesia jangan sekadar dipahami sebagai sebuah kata benda, melainkan kata kerja dan perjuangan sejarah yang dinamis, yaitu mengindonesia. Dan kita semuasecarasadarmestiterlibat dalam proses menjadi Indonesia karena di samping sebuah rumah peradaban, Indonesia juga merupakan identitas dan jati diri.
Spirit itulah yang tercantum dalam Pancasila yang akhir-akhir ini kurang memperoleh apresiasi. Saat ini sangat urgen untuk menemukan kembali grand solidarity, yaitu rasa kebersamaan untuk membangun bangsa,yang mampu menyinergiskan ”keakuan” menuju ”kekamian”dan ”kekitaan” dalam rumah besar yang bernama Indonesia.
Munculnya sekian banyak partai politik dan begitu kuatnya semangat otonomi daerah perlu diwaspadai, jangan sampai malah menghancurkan bangunan ”kekitaan” yang berujung pada ”keakuan”. Agenda dan kebanggaan lokal yang dibangun oleh puluhan partai politik,organisasi kemasyarakatan, peraturanperaturan daerah, dan semangat otonomi daerah sangat bahaya kalau pada urutannya membuat rasa keindonesiaan kita kian melemah.
Gejala ke arah sana mulai kita rasakan dan pada saat yang sama kita juga melihat semakin melemahnya posisi Indonesia dalam percaturan tingkat ASEAN maupun dunia. Dalam berbagai forum, kadang terlihat sekelompok aktivis pemuda memuji-muji kehebatan demokrasi Amerika Serikat, lalu bersemangat ingin meniru.
Sayang, terkadang mereka melupakan esensi demokrasi itu sendiri dan berhenti pada ornamen luarnya saja,berupa kebebasan berserikat, demonstrasi, serta berlomba mendirikan parpol dan ormas. Akhirnya yang namanya partai politik bukannya bagian integral dari agenda pembangunan pemerintahan yang efektif dan rasional, melainkan lebih merupakan institusionalisasi dan ekstensi dari semangat komunalisme kelompok.
Partai politik dan organisasi kemasyarakatan menjadi pelembagaan dari kerumunan massa yang visi dan tujuannya tidak terkait langsung dengan state building. Ada lagi yang kagum berdecak campur minder melihat kemajuan China, India, dan Korea.Hemat saya, Indonesia mesti tampil dan maju tanpa harus kehilangan identitas keindonesian.
Ada kesan sekarang ini kita lagi puber demokrasi dan HAM, namun melupakan agenda besar membangun pendidikan dan ekonomi rakyat yang merupakan pilar bangsa. Kekuatan pemilik modal, masyarakat, birokrasi pemerintah, dan lembaga pendidikan mestinya bersinergi, bukannya saling menjegal agar bangsa ini bisa tegak berdiri dan berjalan secara kokoh dan mantap.
Saat ini pilar kehidupan berbangsa rapuh sekali. Ibarat rumah besar, di sana-sini terjadi kebocoran, termasuk pagar dan temboknya, sehingga para predator,baik domestik maupun asing, secara leluasa berkeliaran. Di tengah suhu politik yang mulai memanas, mari kita temukan kembali dan pegang teguh komitmen dan cita-cita mulia mengapa Indonesia ini diperjuangkan lalu diproklamasikan dengan ongkos dan pengorbanan yang tidak bisa ditakar dengan materi.
Kita ganti tradisi kekerasan dan kemalasan dengan kedamaian,kecerdasan, dan kerja keras sebagai etika dan etos berbangsa dan bernegara.Kita wujudkan the imagined Indonesia sebagai sebuah civic nation di mana nilai-nilai Pancasila bukan sekadar kontrak politik yang diposisikan sebagai ideologi negara, tetapi lebih merupakan living values dalam kehidupan birokrasi, sosial, maupun politik.[Komaruddin Hidayat]
Tulisan ini pernah dimuat di Seputar Indonesia, 1 Agustus 2008



potonya bagus2 Pakde,,,
yupz, banyaknya parpol saat ini menggambarkan banyak sekali ‘KEPENTINGAN PRIBADI’ yang mencuat ke permukaan, sehingga saat memegang kekuasaan, yang pertama terpikir adalah bagaimana memuaskan kepentingan pribadi tersebut, urusan rakyat belakangan.
Demokrasi yang salah arti..
Berharap kemerdekaan ini dijadikan momentum generasi muda untuk menjadikan Indonesia lebih baik.
-Salam kenal Pakde
setuju pakde…
mari tunjukkan jatidiri kita sesungguhnya yang sdh lama tenggelam akibat salah kaprahnya orang2 memahami arti dari Demokrasi.
kalau begitu, mari kita bangun optimisme.
kalau pesimis, mengeluh, dan sibuk menyalahkan, kapan kita mau berpikir untuk reinventing this nation?
tul gak, pakde? merdeka!!!
Tadi upacara di wisma indonesia bersama saudara senegara yang merantau di sydney.
haru juga, laporan lengkap is still in the oven, pakde.
Pak de..aku pernah ikut seminar lembaga survey nasional – Demos – di Sumsel bulan lalu…
isinya…kita diajak Demos untuk buat blok politik.
Blok politik menjadi wadah menyampaikan aspirasi di luar partai politik…
blok politik bukan partai politik…
intinya, blok politik untuk meminimalisir dominasi elite politik…
kayaknya seru….tp belum tau kapan realisasinya untuk Jambi…
sepertinya…Blok Politik yang dimaksud…bisa ikut menghindari negeri ini dari cerita PakDe di atas..
Bisa saja pade klo Pejuang2 yang telah gugur masih hidup melihat negeri ini mungkin mereka akan menangis. sebab pengorbanan yang selama ini mereka perjuangkan tidak sepenuhnya kita jalankan. oke knp kita tidak bisa bergerak, kenapa kita tidak melakukan perubahan itu sendiri, sebab Pejabat teras pemirintahan tidak akan merealisasikan suara kita mereka lebih memperhatikan suara investor yg memiliki banyak uang untuk di sumbat masuk kemulutnya, itu sudah menjadi tradisi dan sudah mendarah daging sendiri, wacana yang dikeluarkan oleh rakyat dengan mentah-mentah mereka tolak. contohnya saja hukuman mati bagi koruptor. itukan salah satu wujud keprihatinan masyarakat terhadap tikus kotor yg menggerogoti hak mereka sebagai warga negara indonesia. pade, dengan apa lagi kita bisa membantu membagun tanah air tercinta ini? Apakah mungkin kita kembalikan saja kejaman penjajahan dulu agar pejabat teras pemerintah tau betapa susahnya perjuangan itu di lalaui untuk mendapatkan kata “MERDEKA” ?
wah berat euy bacaannya , tp yang pasti, MERDEKA !
Merdeka = Bebas Korupsi
Merdeka…. Pak De, “Dirgahayu RI yang ke 63 semoga semakin berjaya”….. Amien. Thanks
Hihihih foto manjat pinangnya seruu pakde.
Iya kita baiknya gak buangbuang waktu tuk saling menyalahkan yang penting berbuat semampu kita walaupun dimulai dari hal2 kecil dan sedini mungkin demi bangsa ini.
dirgahayu RI ke 63
semoga bertambahnya usia, semakin bertambah kualitas bangsa ini.
merdeka bung!
Bangkit Negeriku
Harapan It7u Masih Ada
Merdeka!
Merdeka, dan tetaplah penuh semangat ‘45.
Kita tidak tahu apa yang bisa kita perbuat untuk membantu Negara ini, Namun setidaknya kita sudah memulai dari diri sendiri, keluarga dan lingkungan kita untuk mengerti mana yang benar dan mana yang salah.
Semoga kita tidak bersikap masa bodo dengan menutup mata hati.
Mari menjadi Bangsa Indonesia yang mencintai Negeri sendiri, dengan memulai dari hal termudah dari yang bisa kita lakukan sebelum melakukan hal besar yang belum tentu kita bisa.
Salam Merdeka