Hari ke-13 Ramadhan 1429 H. Ada satu kesempatan yang membuat saya mengharuskan untuk ber-I’tikaf. tanpa pretensi apa-apa, saya melakukannya karena sadar kalau saya hidup dan menikmati proses serta karunia hidup ini sepertinya hanya mengejar sisi dunia dan saya nyaris lupa untuk berfikir tentang akhirat kelak. Sadar ataupun tidak, coba temen2 rasakan sendiri kalau setiap jiwa itu memiliki kecintaan kepada duniawi, kita Semua merasakan itu. Maka, wajar kalau kita cinta kepada istri kita, anak-anak, harta kekayaan yang berlimpah, emas, perak, rumah tinggal, kendaraan mewah. Namun, lebih benar dan lebih wajar lagi kalau kecintaan tersebut dibatasi rambu-rambu dan keteraturan. Nah selama ini saya koq kurang mendapatkan bumbu-bumbu itu.
Kita adalah makhluk serakah, Kitalah makhluk yang tak kenal lelah dalam mencari harta dunia. Kita adalah makhluk yang suka bersaing, memiliki dorongan syahwat yang kuat terhadap keinginan dirinya. Karenanya, jika manusia dibiarkan dalam kebebasan tanpa rambu dan batas-batas hidup, kehancuran dan kebinasaan yang akan dialaminya.
Setelah mengikuti beberapa Tausiyah kemaren, saya jadi mengerti lebih bnayak tentang Rambu dan dan aturan kehidupan untuk manusia yaitu syariat Allah berupa akidah, ibadah, dan muamalah. Karenanya, ibadah-ibadah dalam Islam diperuntukkan menjaga diri manusia dari ketertipuan duniawi, ibadah yang berkonotasi taqorrub kepada Allah agar dapat memelihara hati manusia dari bencana yang dapat menimpa dirinya. Sebab, jika hati manusia baik dan terarah, maka amal perbuatannya pun akan baik dan terarah.
Diantara ibadah pengarah dan pengendali hidup dan kehidupan manusia adalah i’tikaf. Yaitu menetap di dalam mesjid dengan niat taqarrub kepada Allah, dengan melakukan amal-amal ubudiyah. I’tikaf ini setahu saya merupakan ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam.
Rasulullah saw. selalu menghidupkan ibadah i’tikaf, karena beliau memahami fadhilah (keutamaannya) dan merasakan kesejukkan hati. Memang, i’tikaf ini merupakan ibadah yang mampu mengarahkan kecenderungan cinta dunia yang dimiliki manusia. I’tikaf juga mampu mengingatkan gemerlapan harta kekayaan agar tidak menjerumuskan. I’tikaf terbukti mampu menuntun manusia untuk menjauhkan diri dari godaan teman-teman hidup yang selalu mengajak manusia ke jalan kehancuran dan malapetaka. Manusia akan aman dan tentram dari berbagai tipu muslihat ’syetan’ kehidupan.
Secara khusus, Rasulullah melakukan i’tikaf pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, sebagaimana yang diriwayatkan Aisyah ra., bahwa Nabi saw. selalu i’tikaf pada 10 malam terakhir di bulan Ramadhan sampai beliau wafat. Kemudian, sunnah i’tikaf ini dilanjutkan oleh para istri beliau (HR Bukhari dan Muslim). Subhanallah, Allahu Akbar, itulah teladan kita, senantiasa menyadari bahwa usia Panjang yang dikaruniakan Allah handaknya dimanfaatkan untuk kebaikan-kebaikan. Sebab, apa artinya umur panjang jika penuh dengan noda maksiat kepada Allah swt.
Suatu keteladanan prima dari seorang Rasul. Ketinggian dan kemuliaan diri yang disandangnya tidak membuat Dirinya lupa. Bahkan, semakin tinggi dan mulia, semakin ia buktikan syukurnya dan sikap serta perilaku tunduk dan taatnya, yang dicontohkan dengan bertasbih dan istigfar. Yang mengindikasikan bahwa ketinggian dan kemuliaan dirinya bukan semata-mata karena dirinya, tapi semua itu karena ke-Maha-Kuasa-an dan Kehebaatan Allah swt.
Yang mau ber I’Tikaf saya ingetin lagi nih. Dalam i’tikaf, dianjurkan pula untuk melakukan kegiatan-kegiatan Taqarrub lainnya, seperti tilawah Al-Qur’an, mempelajari hadits Nabi saw., membaca buku-buku Islam, mendengarkan nasehat dan arahan agama, tasmi’ (mendengarkan bacaan Al-Qur’an) dan kegiatan lain yang positif yang tidak membatalkan i’tikaf dan tidak mengurangi nilai kekhusyuan ibadah di mesjid.
Hanya saja, saat ini saya kembali melihat adanya hal-hal yang ‘ganjil’ dalam masalah i’tikaf, sekaligus merupakan kekeliruan persepsi, antara lain:
Mispersepsi yang lain adalah anggapan i’tikaf sebagai peluang Bertemu handai taulan, sehingga ada kecenderungan i’tikaf dijadikan ajang ‘ngobrol’ dengan teman-teman yang jarang bertemu. I’tikaf berjamaah dibolehkan, bersama keluarga, teman atau famili sekalipun, namun pertemuan saat i’tikaf tidak boleh dijadikan saat ‘kangen-kangenan’, sehingga membuat gaduh mesjid dan bahkan sangat mungkin mengganggu yang lain.
Ada kekeliruan lain tentang i’tikaf. Sebagian orang meninggalkan Tugas dan kewajibannya di tempat kerja atau mengindahkan amanat dari Seseorang lantaran ingin melakukan i’tikaf. Sangat tidak adil dan tidak bijak seseorang meninggalkan yang wajib untuk melakukan yang sunnah.
Semoga Allah SWT memberikan taufik dan kemudahan kepada kita yang berminat dan berupaya mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW. Sebagai tambahan amalan kebajikan kita dan pemberat timbangan amal shalih di Akhirat kelak.
Allahu A’lam Bish-showab.



I’tikaf dulu sering membuat saya menangis pada saat introspeksi diri. Menyadari betapa banyak dosa yang telah saya perbuat. Dan biasanya sangat berguna karena bisa menenangkan hati, dan selalu berusaha berfikir positive. Insya Allah Idul Fitri ini ada teman yang mau mengajak saya ke masjid terdekat. Selamat Pak De, semoga i’tikafnya bisa berjalan lancar selama 10 hari terakhir ini. thanks
baiklah kalo begitu, *niat* pengen menyempatkan 15 menit atau lebih untuk ber i’tikaf..
Betul pakde, banyak – banyaklah ber iātikaf
Subhanallah. Semoga kita semua mendapatkan hidayah iman lebih besar dan kuat lagi.
Saya pernah mendengar ada ajaran bahwa bagi wanita, i’tikaf lebih baik bila dilakukan di rumah. Tapi saya juga pernah mendengar bahwa yang namanya i’tikaf adalah di dalam masjid. Jadi bagaimana yang benar?
Ah…. sebenarnya sih….. kegiatan duniawi tidak harus berseberangan dengan kegiatan spiritual kok. Kita bekerja harus berniat karena ibadah atau karena Allah. Kita bekerja berniat untuk menjayakan bangsa dan agama kita. Kita menyagangi anak istri kita juga karena agama memerintahkan kita untuk berbuat demikian. Jadi tidak perlu ada
dramatisasipertentangan antara kegiatan duniawi dan spiritual.Masalahnya…… kita seringkali lupa berniat karena Allah jikalau kita mulai bekerja atau melakukan hal positif keduniawian….
Wahhh indahnya bagi yang berkesempata i tikaf… dulu sih kalo i tikaf puasa di masjid cuma molor
Kumaha kabarna urang jambi teh…
Terakhir itikaf waktu pesantren kilat di DT waktu SMA dulu…
Jadi pengen lagi…
[...] Pak Dekry Hartawan: Tulisan-tulisan beliau menginspirasi pembacanya [...]
Sebetulnya setiap perbuatan baik kita, diniatkan agar untuk dan karena Allah swt. Insya Allah semua berjalan lancar.
pakde… ah… jadi ingin segera pergi i’tikaf.. tapi kok kantor cutinya baru tanggal 25