Foto2 ini diambil saat kembali ke Jambi dengan jalur darat, I said ini foto2 arus balik yang sempat masuk bidikan camera. Lokasinya berada di Pelabuhan Merak dan Pelabuhan Bakauheni. Dua tempat yang menjadi poros arus mudik antara Sumatera dan jawa. Banyak kisah yang saya temukan di dua tempat ini, Semuanya syarat makna. Nekad bukan? Ini yang masuk kategori nekad, mudik dengan kendaraan seperti ini, Panas? Ah bisa saja…karena belum ada AC produk baru untuk jenis kendaraan seperti ini, Saya begitu tertantang membidik dua bocah yang diajak mudik keluarganya. Sekian tahun kemudian, saya ingin memperlihatkan foto2 ini pada mereka kelak, Jepretan yang mengabadikan moment mudik mereka. Terlintas dalam benak, dan saya langsung membayangkan bagaimana kehidupan mereka kelak, saat harus mengenang kembali cerita dan kisah mudik yang meeka lakukan tahun ini. Akankah keduanya memberikan kesan cukup mendalam dalam kehidupannya? Saya hanya menerka…Akankah mereka ingat?
Lima belas menit setelah antrian mobil yang kami tumpangi berhasil mencapai dek kapal. Ini saatnya bagi saya mencari view yang bisa di jepret. Terimakasih ya Allah, Engkau berikan aku sepasang mata untuk melihat keindahan alamMu.
Aha…Ini foto pertama yang mengingatkan saya pada jaman2 SD, Foto laut dengan background bukit dan object perahu layar. Sebuah komposisi yang mengingatkan saya pada kalender tahun 70-an yang dipasang babeh di ruang tamu, Sebuah komposisi yang juga mengingatkan saya pada buku bergambar dengan nilai tujuh setengah yang didapat dari guru menggambar. Lautnya begitu tenang. Kibasan layar perahu yang cukup manis. Sayangnya di tengah menikmati moment ini, saya di kagetkan oleh beberapa pria dewasa yang mencari penghidupan dengan menunjukan keberanian dan kehebatannya berenang menangkap lemparan koin dan uang kertas dari penumpang kapal. Begitu berani keduanya tanpa takut tersedot arus atau terkena baling2 kapal dibagian bawah kapal. Salut! Ini kata yang pertama saya berikan pada mereka ketika salah satu dari mereka minta di lempari koin dan uang kertas. Koin saya jatuhkan, dan langsung di kejar. Atraksi ini berlangsung selama 20 menit dan berakhir ketika kapal mulai bergerak meninggalkan Pelabuhan, lagi-lagi diawali dengan teriakan klaksonnya yang super kenceng.
Tak jauh dari Pelabuhan, kapal merah ini mencuri perhatian saya kembali. Ya…I like it….dan lagi2 mengembalikan satu peristiwa saat saya sibuk jadi crew pelayaran di Bhaita Offshore Shipping tahun 97 lalu, dengan rute Jakarta – Surabaya – Sorong.
Lalu, inspirasi yang ditemukan dalam perjalan kali ini. Ditengah terik menyengat. Sejauh mata memandang hanya lautan luas dengan warna yang khas serta riak gelombang yang di sebut ombak tersibak badan kapal yang saya tumpangi. Sebuah kisah inspirasional yang memapah saya untuk tetap tegar, legowo, nerimo, supple dan sederhana, percaya diri.
Di tengah samudra yang maha luas, tampaklah ombak besar sedang bergulung-gulung dengan suaranya yang menggelegar, tampak bersuka ria menikmati kedasyatan kekuatan badan kapal yang mebelahnya, seakan-akan menyatakan keberadaan dirinya yang besar dan gagah perkasa. Riak gelombangnya berhiaskan buih putih.
Sementara itu, jauh di belakang gelombang ombak besar, tampak sang ombak kecil bersusah payah mengikuti. Ia terlihat lemah, tertatih-tatih, tak berdaya, dan jauh tersisih di belakang. Akhirnya, ombak kecil hanya bisa menyerah dan mengekor ke mana pun ombak besar pergi. Tetapi, di benaknya selalu muncul pertanyaan, mengapa dirinya begitu lebih lemah dan tak berdaya?
Seketika Ombak kecil berteriak: “Hai ombak besar. Tunggu.!”
Sayup-sayup suara ombak kecil didengar juga oleh ombak besar. Lalu sang ombak besar sedikit memperlambat gerakannya dan berputar-putar mendekati arah datangnya suara. “Ada apa sahabat?” Jawab ombak besar dengan suara menggelegar hebat.
“Tolong, pelankan suaramu. Dengarlah, mengapa engkau bias begitu besar? Begitu kuat, gagah, dan perkasa? Sementara diriku. ah. begitu kecil, lemah dan tak berdaya. Apa sesungguhnya yang membuat kita begitu berbeda, wahai ombak besar?”
Ombak besar pun menjawab, “Sahabatku, kamu menganggap dirimu sendiri kecil dan tidak berdaya, sementara kamu menganggap aku begitu hebat dan luar biasa, anggapanmu itu muncul karena kamu belum sadar dan belum mengerti jati dirimu yang sebenarnya, hakikat dirimu sendiri”.
“Jati diri? Hakikat diri? Kalau jati diriku bukan ombak kecil, lalu aku ini apa?” Tanya ombak kecil, “Tolong jelaskan, aku semakin bingung dan tidak mengerti.”
Ombak besar meneruskan, “Memang di antara kita terasa berbeda tetapi sebenarnya jati diri kita adalah sama, kamu bukan ombak kecil, aku pun juga bukan ombak besar. Ombak besar dan ombak kecil adalah sifat kita yang sementara. Jati diri kita yang sejati sama, kita adalah air. Bila kamu menyadari bahwa kita sama-sama air, maka kamu tidak akan menderita lagi, kamu adalah air, setiap waktu kamu bisa menikmati menjadi ombak besar seperti aku, kuat gagah dan perkasa. Jika kamu berkumpul dengan kawanmu yang lainnya”
“Kita sama-sama di belah Kapal motor, yang membedakan hanya gelombang yang kamu miliki dengan yang aku miliki. Kita memiliki karakter yang cukup umum, bisa menempati segala ruang dan bentuk, begitu elastic karakter kita dan siap menempati ruang apapun dengan segala kondisi. Buih yang putih ini yang melatih kita untuk fleksible. Kamu perhatikan, saat buih ada di tanganku jumlahnya begitu banyak, namun saat buih ini ada di hadapamu buih-buih ini menghilang menyatukan kita kembali dengan salah satu warna. biru.
Mendengar kata-kata bijak sang ombak besar, mendadak timbul kesadaran dalam diri ombak kecil. “Ya, benar, aku bukan ombak kecil. Jati diriku adalah air, tidak perlu aku berkecil hati dan menderita.”
Dan, sejak saat itu, si ombak kecil pun menyadari dan menemukan potensi dirinya yang maha dahsyat. Dengan ketekunan dan keuletannya, ia berhasil menemukan cara-cara untuk menjadikan dirinya semakin besar, kuat, dan perkasa, sebagaimana sahabatnya yang dulu dianggapnya besar. Akhirnya, mereka hidup bersama dalam keharmonisan alam. Ada kalanya yang satu lebih besar dan yang lain kecil. Kadang yang satu lebih kuat dan yang lain lemah.
Begitulah, mereka menikmati siklus kehidupan dengan penuh hikmat dan kesadaran. Sebagai manusia, sering kali kita terjebak dalam kebimbangan akibat situasi sulit yang kita hadapi, yang sesungguhnya itu hanyalah pernak-pernik atau tahapan dalam perjalanan kehidupan. Sering kali kita memvonis keadaan itu sebagai suratan takdir, lalu muncullah pikiran2 negatif: aku tidak beruntung, nasibku jelek, aku orang gagal, dan lebih parah lagi menganggap kondisi tersebut sebagai bentuk “ketidakadilan” dari Allah.
Dengan memahami bahwa jati diri kita adalah sama-sama manusia, tidak ada alasan untuk merasa kecil dan kerdil dibandingkan dengan orang lain. Karena sesungguhnya kesuksesan, kesejahteraan dan kebahagiaan bukan monopoli orang-orang tertentu, jika orang lain bisa sukses, kita pun juga bisa sukses! Kesadaran tentang jati diri bila telah mampu kita temukan, maka di dalam diri kita akan timbul daya dorong dan semangat hidup yang penuh gairah sedahsyat ombak besar di samudra nan luas. Siap menghadapi setiap tantangan dengan mental yang optimis aktif, dan siap mengembangkan potensi terbaik demi menapaki puncak tangga kesuksesan.
“Jati diri kita adalah sama-sama manusia! Tidak ada alasan untuk merasa kecil dan kerdil dibandingkan dengan orang lain. Jika orang lain bisa sukses, kita pun bisa sukses!”
Mereka beridiri sama persis di tempat ketika saya menatap samudera, ditempat ketika sebuah cerita inspirsi muncul. Saya Berharap kisah ini dapat di rasakan oleh beberapa penumpang yang sama2 menikmati rute balik. Diantara eloknya Lampung dan hamparan lautnya dengan riak gelombang yang sangat inspiratif.
Terimakasih juga, karena temen2 sudah menyempatkan waktu menikmati rute perjalanan saya kali ini. Kita adalah sama-sama manusia. Apa yang Nampak beda diantara kita bukan untuk dibeda-bedakan, tapi untuk saling melengkapi.









Ilustrasi yang menggugah batin. Saya punya keyakinan bahwa setiap detik yang disediakan Allah untuk kita, hakekatnya adalah sebuah pelajaran bermakna, satu detik bisa jadi adalah ribuan ilmu.
Dan membaca posting ini tidak hanya bisa membuat saya bisa ikut menikmati rute balik-nya PakDe, tapi jg ikut merenung bersama, kita sama-sama manusia dan setiap manusia itu adalah istimewa dengan keunikannya.
Welcome back, PakDe.
Subnallah … setiap gerakan ombak kan berzikir ya pak De … seluruh alam berzikir, malu rasanya jika kita yang tidak berzikir.
Minal aidin wal faidzin ya pak De, maafkan atas segala khilaf saya selama berkata kata
Inspirasi yang bisa menggugah semangat Pak De. Semoga tidak ada lagi yang merasa minder dan berkecil hati. Karena semua hal itu adalah penghalang bagi kesuksesan dan kebahagiaan seseorang. Terimakasih inspirasinya Pak De.
banyak hikmah yang didapat dalam bulan Ramadhan, semoga setelah menjalankan ibadah puasa sebulan penuh kita menjadi lebih dewasa dan bertawakal kepada Allah Swt. Amin
wah… blog ini menarik lho… coba di share aja di situs social bookmarking ini>>> http://www.lintasberita.com mudah2an bisa membantu naikkan traffic blog ini keep up the good post ok.. btw.. ever thought bout adding lintasberita’s widget?? just look at your live traffic feed?? Nanti akan banyak pengunjung yang datengnya dari lintasberita lho… cek disini aja yah
>>> http://www.lintasberita.com/tools.php
itu bener pakdhe pulangkampungna make kap terbuka gitu, niat juga yah buat tutup atasnya. btw terinspirasi nih untuk lebih bijaksana
selamat..kembali lagi pakde di tanah jambi…..pakde berbakat jadi potografer ni.
fotonya keren-keren.. welcomeback to the job ya pak.. semoga sukses di rantau..
Tulisan yang indah pakde…juga foto-foto nya. Apalagi foto ombaknya…..
Pakde,
Laut adalah sumber inspirasi, dimana juga bahaya yang menghadang datang dari sana.. semua ini mengingatkan kita manusia untuk selalu menyadari bahwa ada kuasa yang maha dahsyat itu.
Words of nicely put, indeed.. am now flying home for home-leave. Just about time to regain sanity after serving sometime in this part of world where insanity is still imminent
photo nya keren pak de
kapal nya terasa berjalan
hu hu hu. pengen cerita juga soal perjalanan mudik saya dari Jakarta ke Jogja, tapi ndak bisa. Lha wong keretanya pas malem koq, bejubel lagi. Banyak yang ndak pake tiket resmi. Duh, PJ KAI…
Wah dulu tahun 88-90 an yg berenang menangkap lemparan koin itu, anak2.
Mungkin anak2 itu sekarang udah dewasa ya….
Pak De kelihatanya pecinta Air – Laur – Danau dan yang sejenisnya …
Asik Pak De … Asik …
So sekarang Pak De itu ada di Jambi Toh ?
Salam saya
(daya masuk sini lagi … sudah dua kali dalam sehari ini)
Blognya keren sih … sumpah … !