Biarin saja mereka semua berantem di situ. Maunya apa, silakan. Nantinya, dari berantem-berantem itu semoga saja ada suatu dialog menuju perdamaian. Bergerumul, bicara tidak karuan tak jelas siapa yang disalahkan, tak jelas pula siapa yang merasa benar. Inilah satu moment yang mewarnai kepulangan mereka dari sekolah Yayasan Dewi Nurdin Hamzah Jambi.
Sebuah yayasan pendidikan yang melatih mental anak2 ini untuk cerdas dilengkapi budi pekerti yang baik.
Saya tidak bermaksud menyalahkan pihak manapun ketika satu peristiwa yang dilakukan sekelompok anak muda atas aksi saling hantam ini. Orang tua tentu menginginkan anaknya tidak melakukan hal negatif, sama halnya dengan sekolah, lautan ilmu bisa di dapat dan bukan ilmu tawuran. Berapa persen mereka bergaul dengan lingkungan yang belum positif, ini yang akan menetukan sebuah pribadi dibentuk. Dan lingkungan pergaulan tetap memberikan pengaruh bagi mereka dalam membantu proses perkembangan mentalitasnya.
Ini adalah sekelompok anak2 berseragam abu-abu yang katanya sedang mencari jati diri beraksi dalam bentuk TAWURAN. Ya…! satu bentuk perilaku agresi, yang disengaja dengan maksud untuk menyakiti dan merugikan orang lain. Memang terdengar klise ketika kata “Masa Remaja” diartikan masa manusia mencari jati diri. Bila pencarian tersebut direfleksikan melalui aktivitas berkelompok untuk menonjolkan keegoannya, lambat laun yang terjadi dikalangan anak muda, status memiliki kelompok ini menimbulkan adanya semacam ikatan batin antara sesama kelompoknya untuk menjaga harga diri kelompoknya. Maka tidak heran, apabila kelompoknya diremehkan, emosional-lah yang akan berbicara.
Saya tak perlu mengajarkan lagi kepada siapapun karena pada fase ini, remaja termasuk kelompok yang rentan melakukan berbagai perilaku negatif secara kolektif (group deviation). Mereka patuh pada norma kelompoknya yang sangat kuat dan biasanya bertentangan dengan norma masyarakat yang berlaku. Penyimpangan yang dilakukan kelompok, umumnya sebagai akibat pengaruh pergaulan atau teman. Kesatuan dan persatuan kelompok dapat memaksa seseorang untuk ikut dalam kejahatan kelompok, supaya jangan disingkirkan dari kelompoknya.
Disinilah letak bahayanya bagi perkembangan remaja yakni apabila nilai yang dikembangkan dalam kelompok sebaya adalah nilai yang negatif. Tentu, ini akan memperjelas “wilayah abu-abu” kaum remaja kelak.
Sulit memang jika kita dikembalikan lagi ke masa lampau saat kita berusia seperti mereka. Gejolak ego ini kerap muncul dan mendominasi jumlahnya sampai kita dikalahkan untuk dapat memilih, menentukan satu kelompok lingkungan yang sesuai keinginan kita. Apalagi jika sudah didasari asas solidaritas atau asas pertemanan lainnya yang sudah mengakar pada kualitas pribadi yang sudah saling akrab satu sama lainnya. Ya…meskipun pribadi yang di kenal dan buruk karakternya, tetep saja FUN.
Banyak faktor yang mempengaruhi tingkat kerawanan sekolah dijadikan ajang perkelahian. Pertama adalah faktor fisik sekolah Seperti berdekatan dengan pusat-pusat hiburan/keramaian, kurangnya sistem pengamanan lingkungan, serta tidak tersedianya sarana yang membuat anak-anak betah di sekolah. Ada lagi faktor psikoedukatif, yaitu ketertiban dan kelancaran proses belajar-mengajar di sekolah. Dan faktor efektivitas interaksi edukatif di sekolah.
Lalu bagaimana dengan manajemen rumah tangga yang tidak efektif? Pola asuh yang tidak tepat (pola asuh keras menguasai maupun pola membebaskan) serta hubungan yang tidak harmonis antar anggota keluarga dapat menyebabkan anak tidak betah di rumah dan mencari pelampiasan kegiatan di luar bersama teman-temannya. Hal ini tidak jarang menyeret mereka kepada pergaulan remaja yang tak sehat, seperti perkelahian.
Kondisi lingkungan tempat tinggal yang tidak berkualitas, tidak nyaman dan tidak layak, akan mempengaruhi remaja dalam menyikapi dan membangun hubungan dengan dunia sekitarnya. Bagi remaja yang hidup di tempat kumuh dan kotor kemungkinan besar mereka tidak akan nyaman tinggal di rumah sehingga akan melarikan diri dari kenyataan. Pada kondisi inilah remaja mudah tergiur untuk berbuat menyimpang karena lepas dari norma dan pengawasan di rumah.
Masa depan mereka tidak hanya ditentukan oleh dirinya, namun juga kita selaku yang terdekat dengan mereka.
Mereka berada dalam satu masa periode storm and drang period (topan dan badai) dimana gejala emosi dan tekanan jiwa, sehingga perilaku mereka mudah menyimpang. Inget, mereka perlu mengisi waktu luangnya dengan kegiatan yang lebih bermanfaat, Seperti Mengikuti kegiatan kursus, berolahraga, mengikuti kegiatan ekstrakulikuler, dll.
Sulit? Bagaimana kalau kita awali dari lingkungan keluarga? Dengan mulai melakukan pencegahan terjadinya tawuran, minimal memberikan pola asuh yang baik. Artinya:
- Penuh kasih sayang
- Penanaman disiplin yang baik
- Ajarkan membedakan yang baik dan buruk
- Mengembangkan kemandirian, memberi kebebasan bertanggung jawab
- Mengembangkan harga diri anak, menghargai jika berbuat baik atau mencapai prestasi tertentu.
Ini Resource yang saya temukan sendiri dari beberapa buku sebagai tambahan.
RUMAH.
1. Yang diutamakan bukan hanya ritual keagamaan, melainkan memperkuat nilai moral yang terkandung dalam agama dan menerapkannya dalam kehidupan sehari – hari.
2. Ciptakan suasana yang hangat dan bersahabat: Hal ini membuat anak rindu untuk pulang ke rumah.
3. Meluangkan waktu untuk kebersamaan
4. Orang tua menjadi contoh yang baik dengan tidak menunjukan perilaku agresif, seperti: memukul, menghina dan mencemooh.
5. Memperkuat kehidupan beragama
6. Melakukan pembatasan dalam menonton adegan film yang terdapat tindakan kekerasannya dan melakukan pemilahan permainan video game yang cocok dengan usianya.
7. Orang tua menciptakan suasana demokratis dalam keluarga, sehingga anak memiliki keterampilan social yang baik. Karena kegagalan remaja dalam menguasai keterampilan sosial akan menyebabkan ia sulit meyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Sehingga timbul rasa rendah diri, dikucilkan dari pergaulan, cenderung berperilaku normatif (misalnya, asosial ataupun anti-sosial).Bahkan lebih ekstrem biasa menyebabkan terjadinya gangguan jiwa, kenakalan remaja, tindakan kriminal, tindakan kekerasan, dsb.
SEKOLAH.
Sekolah juga memiliki peran dalam mengatasi pencegahan tawuran, diantaranya:
1. Menyelenggarakan kurikulum Pendidikan yang baik adalah yang bisa Mengembangkan secara seimbang tiga potensi, yaitu berpikir, berestetika, dan berkeyakinan kepada Tuhan.
2. Pendirian suatu sekolah baru perlu dipersyaratkan adanya ruang untuk kegiatan olahraga, karena tempat tersebut perlu untuk penyaluran agresivitas remaja.
3. Sekolah yang siswanya terlibat tawuran perlu menjalin komunikasi dan
koordinasi yang terpadu untuk bersama-sama mengembangkan pola
penanggulangan dan penanganan kasus. Ada baiknya diadakan pertandingan
atau acara kesenian bersama di antara sekolah-sekolah yang secara
“tradisional bermusuhan” itu.
4. LSM dan Aparat Kepolisian
LSM disini dapat melakukan kegiatan penyuluhan di sekolah-sekolah mengenai dampak dan upaya yang perlu dilakukan agar dapat menanggulangi tawuran. Aparat kepolisian juga memiliki andil dalam menngulangi tawuran dengan cara menempatkan petugas di daerah rawan dan melakukan razia terhadap siswa yang membawa senjata tajam.
Catatan ini saya buat ditengah semangat persatuan antar pemuda yang tengah didengungkan oleh temen2 mahasiswa atas nama INDONESIA . Semoga semangat persatuan itu tetap berkobar dan mengalahkan kelompok minoritas yang belum membukakan matanya. Minimal ada usaha untuk membuat mereka sadar. Bahwa “kelompok” dibentuk bukan untuk saling bertikai.
Resources:
A, Craig. Effect Of Violent Video Games On Aggressive Behavior, Aggressive Cognitiom, Aggressive Affect, Physiological Arousal, And Prososial Behavior. American Psychologycal Society 2001, (353-359).
Baron, R.A., dan Byrne D.B, 1994 Social Psychology. Under Standing Human Interaction. Boston: Allyn & Bacon.
Brent, M. Low Self Esteem is related to Aggression, Anti Social Behavior, and Delinquency. Research Article. American Psychological Society 2005, (328-335).
Bringham, J.C., Social Psychology. New York: Harper colligns. Publishers Inc.
Diekmann, Andreas. Social Status and Aggression. The Journal of Social Psichology 1996, 136(6), (761-768).
Prabowo, H. 1998. “Seri Diktat Kuliah : Pengantar Psikologi Lingkungan”. Depok
:FakultasPsikologi,UniversitasGunadarma.
Sarwono, S.W. 2002. “Psikologi Sosial (Individu dan Teori- teori Psikologi Sosial)”. Jakarta : Balai Pustaka.
Watson, D.L. 1994. Social Psychology. Science and Aplication. Illinois: Scott and Foresmanand Co.
Worchel, S. dan Cooper, J. 1986. Understanding Social Psychology.Illinois: The Dorsey Press.





tawuran… haduuuh…
pasti beraninya pas rame2…
pakde… nya pas dimana itu??? jadi wasit ya hahahaha
mungkin mereka baiknya diajarin nge-blog aja pakde, jadi nggak banyak waktu buat nganggur
emang susah ya…
sekolah nyalahin orang tua,
orang tua nyalahin sekolah…
ngadain forum diskusi orang tua dan sekolah
yang ada juga adu mulut antar orang tua… (nah loh?)
jadi enaknya gimana donk??? (tuetuep oon mode : on)
Ada yang salah dengan pendidikan di sekolah kita
Ada yang salah dengan pendidikan di rumah kita
Ada yang salah dengan kita
Ada yang harus menjawabnya!
Mungkin dari dunia pendidikan juga perlu menanamkan sikap bertanggung-jawab bagi remaja. Setau saya di US apabila seorang remaja melakukan hal seperti ini boleh dijamin masa depannya akan suram. Karena seorang remaja yang sudah tercatat melakukan tindak felony susah untuk mendapatkan pendidikan setara college. Dan hal ini akan membuat mereka untuk berfikir seribu kali jika ingin menendang mobil di parkiran sekalipun. thanks
wajar,….tawuran dulu damai kemudian
yang berbahaya, tawuran dulu modar kemudian
Ya ampun, ya ampun… nggak cuma mahasiswa saja, ini yang baju abu-abu juga begitu. Parah ya. Teringat dulu di majalah Hai jaman kuda masih gigit jari *kayak saya yang udah tua aja*, diberitakan juga tawuran antar sekolah. Jadi berpikir dua kali kalau kita mempertanyakan orang tuanya bagaimana? Sebab, buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya.
Saat anak-anak masih SMA, benar-benar ujian mental….dan mesti berdoa agar mereka selamat di perjalanan, apalagi anak-anakku dilatih naik angkot sendiri (ini yang kadang dipertanyakan teman-teman…kok tega, soalnya anak-anak mereka dijemput sopir)…..
walah pak de,
daftar pustakanya banyak kali…