Masih Ingat dengan kisah inspirasional yang pernah saya ulas disini? Biar Jelas Click dulu link nya.
Sudah di click? Lanjut dengan posting ini.
Pertemuan kedua dengan lelaki tua itu terulang lagi tanggal 11 November 08, rentang yang tidak lama, dihitung2 hampir satu bulan. Ada yang berubah sedikit dari tulisan kedua yang diberikan pak tua itu. Pertama Naskah yang ditulis dan kedua media yang dipakai untuk menulisnya beda, bukan lagi kardus tipis yang dilipat tapi amplop ukuran A4. Begini isinya:
“Bapak ini musafir, Tidak bisa bicara “bisu” Tidak ada keluarga Tidur di mesjid-mesjid Di sepanjang jalan.
Atas rasa kemanusiaan. Mohon bantulah bapak ini. Tolong beri “Sedekah” Se-Ikhlas hati…setulusnya.
Semoga Tuhan senantiasa, Selalu memberkati segala, Amal dan usaha bapak-ibu, Sekeluarga. “Terimakasih”
NB. Yang menulis naskah ini adalah seorang makmum mesjid.
Disini pakde mulai Gesit menangkap apapun yang disebut moment langka, memotret tulisan ma’mum masjid diatas amplop A4, sampai mengabadikan sosok lelaki tua yang datang kedua kalinya ke kantor saya.
Ada satu moment yang membuat saya terharu, tahu kenapa? Pertemuan kedua dengan lelaki tua itu tidak membuat saya shock seperti pada moment yang pertama, saya tidak kaget lagi. Karena ya…ini pertemuan kedua dan tidak ada yang harus di buat shock.
Tapi, entah kenapa lelaki tua itu masih juga berkaca ketika menerima amplop yang berisi uang dari tangan saya. Mungkin lelaki tua itu menerimanya dengan perasaan haru, sampai harus berkaca-kaca matanya.
Amplop yang saya pegang bertuliskan bahasa proposalnya yang minim itu, ia tukar dengan tulisan yang ke tiga, ia letakkan di telapak tangan saya, “INI UNTUK MU” begitu kira2 ia bicara dalam kebisuan. “Ini apa? Bapak kan sudah dapat amplop dari saya, ini amplop apa lagi pak? bathin saya bertanya2 keheranan, “BACALAH, INI UNTUKMU, SAYA PAMIT, TERIMAKASIH UNTUK SEDEKAHNYA” ini bahasa terakhir lelaki bisu itu sambil memaksakan dirinya untuk keluar dari kantor.
Tangan saya, masih mencengkram kuat surat ketiga yang diberikan pak tua, sambil memperhatikan langkah pak tua menuju tempat lain, sesekali matanya itu melirik ke arah saya dengan lirikan yang sepertinya menandakan bahwa ia tidak mau di awasi dengan kamera saya yang siap jepret. “Shot..click”, satu pose akhirnya terekam, saya perhatikan lelaki itu pergi entah hendak kemana.
Pertemuan yang begitu singkat, namun meninggalkan jejak cukup kuat. Nah, Jejak itu muncul dari lelaki tua itu sendiri yang langsung memberikan tulisan ketiga untuk saya, khusus untuk saya, apa isi tulisan yang ketiga dari pak tua yang ada dalam genggaman tangan saya, ini tulisannya.
Yth, Bapak-bapak dan Ibu – ibu Penyiar Radio Metro di Jl. Sumantri BrojoNegoro – Jambi
Assamualaikum w.w Saya adalah salah seorang pendengar setia radio metro yang berdomisili di kodya Jambi ini. Pada hari Jumat tgl. 17 Oktober 2008 yang lalu, ada seorang penyiar yang bertugas di sekitar pukul sembilan pagi. bercerita tentang orang-orang cacat jasmani dan cacat mental yang paptut di kasihani, saya sangat terkesan sekali dengan bung penyiar ini, bagaimana cara dan gaya bicaranya yang sangat menyentuh lubuk hati dan nurani yang paling dalam.
Saya adalah orang yang menulis surat buat sibisu, yang anda ceritakan diradio dihari jumat pagi itu. Terus terang dan sejujurnya saya katakan bahwa apa yang anda lakukan dipagi itu, sudah beribu-ribu kali melebihi apa yang saya lakukan untuk sibisu ini.
Saya merasa tidak enak hati kalau anda katakan bahwa anda merasa iri kepada saya karena anda tidak bisa berbuat baik seperti yang saya lakukan kepada sibisu ini, padahal apa yang anda lakukan di Jumat pagi itu sudah berlipat ganda melebihi apa yang saya lakukan.
Disini saya pribadi menghaturkan ribuan terimakasih banyak karena anda telah mengetuk dan menggugah hati orang banyak agar membantu orang-orang tak mampu.
God Bless You
ttd
Nofiar
NB. Maaf, surat ini saya tulis terlambat – sebab saya sangat sibuk di akhir-akhir ini.
INSPIRASIPAKDE On Radio. Ternyata pendengar pada jam itu dari berbagai lapisan. Mengingat apa yang telah saya ucapkan tanggal 17 oktober lalu pada saat siaran satu jam itu, membukakan pikiran saya untuk diam dan tidak mengekspose human interest program tentang lelaki tua lagi. Meskipun pada waktu itu mendapat respon positif dari pendengar. Pada saat itu pakde memang menceritakan sebuah moment yang masuk sisi human interest dan kebetulan merupakan kisah nyata yang ditemukan dikantor.
Ada yang saya pikirkan sekarang, Pertama menanggapi tulisan dari Nofiar *** . Kedua, Saya memikirkan dampak dari program yang saya bawakan dalam segmen Inspirasipakde.
Sekarang saya hanya terdiam, sambil duduk memperhatikan satu moment yang masuk dalam sisi hidup saya, tangan ini membolak-balik tulisan nofiar yang mengaku ma’mum masjid, munculah ide dari benak saya untuk membuatkan tulisan yang lebih rapi dengan menggunakan computer, terpikir juga bagaimana supaya tulisannya bisa tahan lama, agar awet kertasnya ya….harus di laminating.
Dengan kertas yang saya print out, nantinya Saya yakin suatu saat, ketika lelaki tua itu datang kembali, Saya tinggal memberikannya sebagai pengganti tulisan2 Mamum masjid, agar lebih sopan. Dan tidak banyak orang beranggapan lelaki tua nampak menderita sekali, minimal jika tulisannya lebih rapi dan bagus, orang akan berangapan bahwa lelaki tua itu pernah masuk panti rehabilitasi atau panti social lainnya, bukan sok sial tapi ya…!
Tapi apakah lelaki tua ini harus terus berjalan dari pintu ke pintu tanpa memperoleh perubahan apapun? Bukan ide yang bagus Pakde!!Iya bukan ide yang bagus….lalu bagaimana pandangan departemen social atau lembaga lainnyanya yang menaungi kaum duafa, saya yakin lelaki tua ini masih cukup kekar untuk berkebun, jadi tukang kuli atau paling tidak ada satu peluang untuk membalikan telapak tangannya tidak lagi harus berada di bawah telapak orang lain? Dengan hanya mengemis dan mengemis. I Hate this Word.
Ada satu tanda tanya besar dikepala saya sekarang, apalagi setelah melihat bahwa tulisannya itu datang dari seorang yang mengaku Makmum Masjid, kenapa ? Karena ia menggunakan media yang tidak begitu menarik dan nampak tidak sopan. Saya menangkap, Ma’mum masjid ini memanfaatkan karakter lelaki tua yang tidak dapat bicara itu agar terlihat semakin menderita, seolah tidak dapat, menggambarkan betapa miskinnya ia, membeli kertas HVS atau Polio atau membuat sebuah proposal yang jauh lebih sopan, dramatis habis.
Hal lain yang sedikit janggal dengan Nofiar ini, Jika beliau bisa menulis dan bisa bicara dengan banyak orang, kenapa tidak membuatkan tulisan dalam kertas yang jauh lebih sopan, dan kertasnya ia dapat dari lingkungan yempat tinggalnyal, kenapa tidak diberdayakan lelaki tua itu menjadi gardener atau kuli apa kek. Saya malah banyak bertanya2 dengan kesibukan ma’mum masjid bernama Nofiar. Sesibuk apa sih tugas seorang makmum masjid itu? Masak iya main ke Metro nggak sempat?
Satu lagi, ada satu tanda tanya yang paling besar. Apa Makna dari peristiwa ini? Asli saya belum menemukan makna dibalik cerita ini selain termenung menunggu dan menunggu hingga jawaban itu datang. Harus kah? Saya ekspose kembali pertemuan kedua dengan lelaki tua itu pada bagian kedua dalam segment INSPIRASIPAKDE? Saya pikir tidak. Biarlah Nofiar panas dingin penasaran dengan suratnya yang ia buat, tanpa ada jawaban apa2 dari saya, minimal dengan begini, jika ia memang cukup bersahaja, sesempit apapun waktu yang ia miliki jika dilandasi dengan niat, ia pasti datang berkunjung. Sehingga saya tidak penasaran siapa itu Nofiar.
Pesan Moral.
Saya koq bersi keras ingin merubah nasib pak tua minimal dari profesinya sebagai pengemis, menjadi tukang kebun atau apalah, yang jelas ia tidak harus menengadahkan tangannya terus setiap saat. saya melihat raga pak tua ini meskipun sudah tua tapi masih kekar loh. Saya yakin dia masih kuat untuk kerja keras. Tidak mudah bagi saya untuk merubah profesi pak tua ini, ya…ini hanya keinginan saya saja. Saya lupa. “NASIB SUATU KAUM ITU AKAN BERUBAH JIKA KAUM ITU SENDIRI MEMILIKI KEINGINAN UNTUK MERUBAHNYA.”
Trimakasih ya Allah….Atas waktu yang Engkau berikan untuk belajar banyak hal dari kehidupan orang2 di sekitar saya.
_________
*** ma’mum masjid yang mebuatkan tulisan untuk lelaki tua. Mendengar nama Nofiar, lupa lupa ingat, saya koq jadi inget dengan sosok lelaki seusia saya yang ngurusin anak jalanan di Jambi. Diakah itu??





hmmm.. seringkali saya lebih banyak menaruh curiga . padahal ternyata kita bisa mengambil pelajaran darinya.
Patut bersyukur dengan apa yg telah mas alami…
Nice post, ternyata saya mesti banyak belajar di blog ini
terima kasih
selamat menjadi diri sendiri pakde..
Kadang kita dipakai Tuhan,untuk membantu..memikirkan seseorang…walaupun orang itu bukan kerabat,sahabat,atapun orang yang kita kenal…
tapi apapun…kerena Pak De,punya hati yang pemurah,luas,dan punya kekuatan untuk melakukan semua ini..
Semoga apa yang Pak De lakukan dapat menjadi contoh dan telandan buat kami,karena diluar sana,masih banyak orang yang butuh kail ,,,untuk meneruskan kehidupannya.
tapi jujur..kadang curiga selalu membuat kami untuk selalu membuat pertimbangan..sehingga perbuatan justru tenggelam didalamnya.
salam…semoga PakDe selalu sehat,sukses dan bahagia…semoga banyak ilmu dan pengalaman mengalir terus untuk kami jadikan pedoman.
o…ya thanks juga buat Awardnya…
terus berkarya…selama berguna..dan diberi kemampuan untuk melaksanakan semua amanahNya!
Thanks pak De!
semoga niat baik berjalan dengan semestinya…nice post PakDe!
setidaknya pakde..memberi lebih baik daripada menerima..
wah web keren nih…salam kenal….!
Hm.. bisa membantu (oran lain) selalu baik…
Tapi kalo bantuan itu menjadikan orang yang dibantu menjadi pemalas atas bahkan pengemis yang memilih jalan mudah meminta belas kasihan ketimbang bekerja, rasanya hal seperti ini untuk kepentingan yang lebih mendasar perlu jadi bahan pertimbangan juga yaa..?
Mendidik tidak selalu menyenangkan (yg dididik)…
emh… di dua posting sekuel pakde mengemukakan dua pemikiran yang berkebalikan sepertinya, baik terhadap si penulis proposal maupun si pengemis yang tuli itu.
ini menunjukkan bahwa subyektivitas kita sangat kontekstual dan terpengaruh oleh lingkungan, ya?
jadi apa kelanjutan yang pakde pikirkan tentang cerita pengemis itu akhirnya? tolong di-update ya, pakde?
btw, saya berterima kasih banyak atas award-nya, rasanya blog saya masih belum pantas menerima penghargaan sehebat itu.
selamat juga atas penghargaan-penghargaan yang diterima oleh blog inspirasipakde, karena blog ini memanglah sangat inspiratif! keep up the good work, pakde!
Salam kenal Pak De,
Posting yang sangat inspiratif, sangat sering terjadi di dalam kehidupan kita. Sikap dan penilaian semata kita buat berdasar “penampilan yang tampak saja” dan kadangkala kita terjebak olehnya.
Salam
yang pasti mengeluarkan sedikit
harta yang dimiliki untuk membantu
orang lain tdk pernah membuat
seseorang jatuh miskin
*postingan yg memberi
pesan moral mencerahkan
thanks Pakde
Betul sahabat
Selayaknya kita gali potensi dan jadilah pemilik tangan di atas, bukan di bawah
Jika membahas masalah peminta-minta memang sering muncul kontroversi. Sebagian besar dari mereka yang sudah pasti adalah memiliki kelemahan jiwa dalam artian tidak lagi memiliki semangat.
Karena semangat adalah penggerak raga, jika tidak ada lagi semangat maka sekuat apapun raga tidak akan bisa berkarya walauppun untuk hal yang sepele dan tidak memerlukan pemikiran.
Semoga PakDe menemukan jalan untuk menolong bapak Tua itu. Dan semoga Allah senantiasa memberikan hidayahnya untuk orang-orang yang peduli seperti Pak De ini. thanks
semoga kita selalu ingat untuk saling memberi dan membantu sesama..
belajar… memang g kenal waktu dan tempat…
dari pengalaman orang pun bisa dijadikan pelajaran yang nggak kalah berharga…
makasi PakDe dah share
Semua kembali kepada nawaitu-nya Pakde
Terkadang kita dihantui dengan prasangka dan menilai dengan mata zahir kita.
Yang penting ikhlas. Setiap ibadah pasti ada nilai yang telah ditetapkan, tetapi khusus untuk nilai Ikhlas, Allah sendiri yang akan memberikannya, tak satu malaikat pun yang mengetahuinya.
terimakasih
Sejujurnya, saya sering merasa ‘ragu-ragu’ jika didatangi orang yang tidak saya kenal, yang datang dengan membawa ‘proposal’ untuk minta bantuan. Soalnya, sudah terlalu sering cara seperti itu dipakai sebagai modus operandi untuk melakukan pembohongan kepada masyarakat. Saya lebih suka menyalurkan zakat/infak ke yayasan yang saya ketahui benar-benar memegang amanah, ke tetangga dan saudara-saudara yang saya tahu dengan pasti kehidupan kesehariannya.
Memang benar, kalau kita memberikan infak dengan ikhlas, Allah akan menerimanya, entah bantuan kita itu benar-benar sampai kepada pihak yang membutuhkan atau hanya termakan kebohongan orang. Tetapi, tentu lebih baik kalau tidak dibohongi, bukan?
Bagamana caranya mendeteksi seorang pembawa proposal bantuan itu jujur atau bohong?
Saya orang yg gampang terenyuh, tapi kisah “bapak itu” menimbulkan pertanyaan di kepala saya…
1. sepertinya bpk itu punya target market pada org2 or tempat2 tertentu? (krn datang pd org/tempat yg sama lebih dari 1 kali)
2. addicted utk ngemis?
Piiisss….