I-liners….yang paling menggairahkan dan memuaskan adalah wawasan yang muncul tiba-tiba yang membuat kita berubah jadi sosok yang lain, bukan hanya berubah, tetapi berubah untuk jauh lebih baik. Saat seperti itu memang langka, tapi kita semua pasti pernah mengalaminya. Entah itu datangnya dari buku, dakwah, khotbah, syair dalam sebait puisi, kadang dari seorang seorang sahabat.

Pada hari yang dingin di sebuah kota yang disebut2 sebagai Paris Van Java, sambil menunggu di sebuah restaurant kecil bergaya Bali, aku merasa jengkel dan tertekan. Hanya karena salah perhitungan yang aku lakukan, sebuah proyek yang sangat penting dalam kehidupanku menjadi berantakan. Sampai akhirnya proyek itu tak bisa di garap sedikitpun. Di restaurant mini ini aku menunggu seorang sahabat. (Si Orang Bijak, begitulah panggilan akrabku) tidak berhasil membuatku gembira seperti biasanya. Aku duduk di satu meja dengan alis berkerut, dimeja bertaplak kotak-kotak, membayangkan masa lalu yang suram.
Akhirnya, dia muncul menyebrangi jalan, dibalut jasnya yang sudah kuno, mengenakan topi dari kain yang tak karuan bentuknya. Menutupi kepalanya yang botak, lebih mirip dengan orang cebol yang energik dari pada psikiater ternama. Kantornya tidak jauh dari situ; aku tahu, dia baru saja selesai memeriksa pasiennya yang terakhir. Usianya hamper 70 tahun, tetapi dia masih bekerja penuh, masih tetap menjabat sebagai direktur sebuah yayasan besar, masih tetep suka bermain golf jika punya waktu luang.
Ketika dia sudah tiba dan duduk disebelahku, pelayan sudah dengan sigap melayani sebotol air mineral seperti kebiasaannya yang tak pernah berubah. Sudah seberapa bulan aku tak bertemu dengannya, tetapi dia masih tetap bugar seperti biasanya. “Nah, anak muda,” katanya tanpa basa-basi, “Apa yang menggangu pikiranmu?”
Sudah lama aku terbiasa dengan sikapnya yang selalu tanggap, maka akupun mulai menceritakan masalah yang menggangguku. Dengan kebanggaan yang memilukan, aku berusaha untuk jujur, tidak menyalahkan siapa-siapa, kecuali diriku sendiri, atas kekecewaanku. Kukaji semuanya, semua penilaiannku yang keliru, tindakanku yang salah. Aku berbicara sekitar 15 menit, sementara si orang bijak itu menenggak minumannya dengan tenang.
Setelah aku selesai bicara, dia meletakan gelasnya, “Ayo,” katanya. “mari kita kembali ke kantorku”
“Kantormu? Ada yang lupa?”
“Tidak,” sahutnya dengan ringan. “Aku ingin melihat reaksimu terhadap sesuatu, itu saja.”
Hujan yang dingin mulai turun diluar, tetapi kantornya hangat dan nyaman, dinding yang penuh buku tertata rapi persis seperti diruang kerjaku, Sofa panjang dari kulit, Foto Sigmund Freud yang bertandatangan, Tape recorder di dekat jendela. Sekretarisnya sudah pulang, kami hanya berdua saja.
Si orang tua mengambil pita kaset dari dalam laci, lalu memasukannya kedalam Tape Recorder. “Dalam kaset ini.” Katanya, “Ada tiga buah rekaman yang dibuat oleh tiga orang yang datang menemuiku untuk minta tolong. Tentu saja mereka tanpa nama. Coba kau dengarkan rekaman ini dan aku ingin tahu apakah kau bisa menangkap frase yang terdiri daridua suku kata yang merupakan persamaan dalam ketiga kasus ini.” Dia tersenyum. “Jangan bingung begitu donk. Aku punya ALasan sendiri.”
Setelah pita rekaman di putar aku mulai menyampaikan berargumen.Menurutku, kesamaan diantara ketiga pemilik suara dalam pita kaset itu adalah perasaan tidak bahagia. Orang pertama yang berbicara jelas mengalami kerugian atau kegagalan dalam bisnis; dia memaki dirinya sendiri karena tidak bekerja lebih keras, karena tidak melihat jauh kedepan. Wanita yang berbicara selanjutnya belum pernah menikah karena merasa punya kewajiban kepada ibunya yang sudah menjanda. Dengan nada getir dia menceritakan semua peluang menikah yang terpaksa dilewatkannya. Suara ketiga milik seorang ibu anak remaja yang berurusan dengan polisi; dia terus menyalahkan dirinya sendiri.
Si Orang bijak mematikan tape recorder, lalu bersandar di kursinya. “Enam kali dalam ketiga rekaman itu ada yang menyebutkan frase yang sarat dengan racun yang halus. Bisakah kamu menangkapnya.” Tidak Bisa?” Mungkin karena kamupunm menggunakannya 3 kali direstaurant tadi.” Dia membuka laci dan mengambil sampul kaset yang sudah diputar, dan melemparkannya kepadaku. “Frase itu ada di labelnya. Dua kata yang paling menyedihkan dalam bahasa apapun.”
Ku lihat label sampul kaset tampak ditulis dengan rapi menggunakan tinta merah kata-kata: KALAU SAJA
“Kau pasti akan terpana.” Kata si orang bijak, “kalau kau tahu sudah berapa ribu kali aku duduk di kursi ini dan mendengarkan kalimat-kalimat memilukan yang dimulai dengan dua kalimat itu. ‘kalau saja’begitu kata para pasienku, ‘aku melakukannya dengan cara yang berbeda__atau tidak melakukannya sama sekali. Kalau saja aku tidak kehilangan kendali, mengucapkan kata-kata keji, melakukan tindakan licik, berbohong. Kalau saja aku lebih bijaksana, atau tidak egois, atau lebih bisa mengendalikan diri.’ Mereka terus saja berbicara sampai aku meminta mereka berhenti bicara. Kadang-kadang aku meminta mereka mendengarkan rekaman yang baru saja kau dengar. ‘Kalau saja,’ kataku kepada mereka, ‘kalian berhenti mengatakan kalau saja, mungkin kita bisa mulai membicarakannya!”
Siorang bijak melonjorkan kakinya. “yang menjadi masalah dengan ‘kalau saja,’” katanya, “adalah bahwa hal itu tidak akan bisa mengubah apa-apa. Kata-kata itu tetap membuat orang tetap menghadapi cara yang salah__melihat kebelakang, bukan ke depan. Kata-kata itu hanya membuang waktu saja. Akhirnya kalau kau menjadikannya sebagai kebiasaan, kata-kata itu bisa benar-benar menjadi hambatan, menjadi dalih karena tidak berusaha melakukan apa-apa.”
“Coba kita bicarakan kasusmu: rencanamu tidak berhasil kenapa?” sebab kau melakukan beberapa kesalahan. Sbetulnya tidak apa-apa: setiap orang pernah melakukan kesalahan, dari kesalahan kita memetik pelajaran, tapi ketika kau menceritakannya kepadaku, mengeluhkan ini, menyesali itu, kau tidak mmeetik pelajaran apapun. Sebabkau selalu mebicarakan masa lalu.”
“Dari mana bapak tahu?” tanyaku dengan membela diri. “tidak sekalipun kau menyinggung masa depan. Dan jujur saja! Kau menikmatinya bukan?”Ada unsure dalam diri kita yang membuat kita senang menyebut-nyebut kesalahn lama. Bukankah dengan menceritakan hal-hal yang dialami si tokoh utama, kita tetap berada di tengah pentas?”
AKu menggelengkan kepala dengan murung, “Jadi bagaimana menyelesaikannya?”
“Geser Fokusnya.” Tukas si bijak dengan cepat. “ Ganti kata kuncinya dang anti frasenya dengan kata kuncu dan frase yang membangkitkan semangat, bukan kata-kata yang menjerumuskan.”
“kata-kata apa yang bisa bapak sarankan?”
“Singkirkan kata-kata ‘kalau saja’; dan anti dengan ‘lain kali’
‘Lain Kali?”
“Ya, benar. Aku sudah sering menyaksikan kata-kata itu membuat keajaiban, langsung diruangan ini. Selama pasien terus saja mengatakan ‘kalau saja’ dia terus tenggelam dalam kesulitan, tapi disaat dia menatapku dan mengatakan ‘lain kali’. Aku tahu bahwa dia sedang berusaha keluar dari permasalahnnya, betapapun suram dan menyakitkannya hal itu, itu berarti dia akan menyingkirkan rintangan kekecewaan, maju kedepan, mengambil tindakan, memulihkan kehidupannya, cobalah sendiri, akan kau saksikan hasilnya.”
TEmanku yang sudah tua itu berhenti bicara. Di luar bisa kudengarkan bisikan hujan di jendela. Ku coba untuk menyingkirkan satu frase dari benakku dan menggantikannya dengan frase lain, tentu hanya dalam bayanganku saja. Tetapi bisa kudengar kata-kata baru itu terpasang dengan pas, mengeluarkan suara “click”
“Satu hal lagi.” Kata siorang bijak itu. “terapkan kiat kecil ini pada berbagai hal yang masih bisa diperbaiki.” Dari lemari buku dibelakangnya ditarik sebuah buku yang mirip sebuah buku harian. “ Ini catatan harian yang disimpan satu generasi yang lalu oleh seorang wanita yang menjadi guru di kampong halamanku. Suaminya seorang lelaki yang ramah, tapi selalu gagal, menawan hati tapi tidak cukup pandai mencari nafkah untuk istri dan anaknya. Wanita ini harus membesarkan anak-anaknya, membayar tagihan, menyatukan keluarga. Buku harian ini sarat dengan kata-kata penuh amarah yang ditujukan kepada suaminya yang tidak pandai mencari nafkah. Aku tersentak sesaat.
“Kemudian,…suaminya meninggal, dan tidak ada lagi catatan yang di tulis dalam buku itu, kecuali satu__beberapa tahun kemudian. Begini tulisannya: ‘hari ini aku diangkat menjadi pegawai sekolah, dan seharusnya aku bangga. Tapi seandainya aku tahu ada suamiku diluar sana di balik bintang-bintang, dan seandainya aku tahu bagaimana caranya, aku akan menemuinya mala mini.’ ”
Si orang bijak menutup bukunya dengan santun,, “kau lihat kan?” yang dikatakannya adalah, ‘kalau saja; kalau saja aku menerimanya, kesalahan-kesalahannya, dan sebagainya; kalau saja aku mencintainya ketika masih bisa melakukannya.’ “ Dikembalikannya buku itu ke tempat semula di rak. “ itulah saat ketika kata-kata menyedihkan itu paling memilukan: ketika terlambat untuk memperbaikinya.”
Dia bangkit dengan gerakan agak kaku. “Nah, pelajaran sudah selesai, sungguh menyenangkan bisa bertemu kamu kembali anak muda. Nah sekarang tolong carikan taksi, agar aku bisa pulang.”
Kami keluar dari gedung itu, memasuki kegelapan malam yang disirami hujan. Kulihat sebuah taksi yang sedang melaju dan berlari menghampirinya, tapi seorang pejalan kaki lebih cepat dari aku.
“Ya ampu,” kata si orang bijak dengan penuh canda.” Kalau saja kita tadi turun sepuluh deti lebih awal, pasti taksi itu kita yang dapat, bukan?” AKu tertawa dan menangkap kata-kata candanya.”lain kali aku akan lari lebih cepat pak,” kataku.
“Itu dia!” seru si orang bijak sambil menarik turun topinya yang aneh itu, dia pakai untuk menutupi telinganya dari hujan. “Begitu seharusnya!”
Sebuah taksi lain berhenti dengan lambat. Kubukakan pintu taksi untuknya. Dia tersenyum dan melambaikan tangan saat taksi bergerak maju. Aku tak pernah melihatnya lagi, sebulan kemudian dia meninggal karena serangan jantung.
Waktu sudah lama berlalu sejak siang hari hujan di disekitar DAGO. Tetapi sampai sekarang, setiap kali aku memikirkan kata-kata “kalau saja” langsung aku ganti dengan “lain kali.” Aku pun teringat pada si orang bijak. Secerah keabadian, namun, itulah secercah keabadian yang diinginkannya. ¤
©jambi22062008![]()



Kisah yang menyentuh hati, sederhana namun dahsyat efeknya…
Kata-kata memang memiliki efek yang luar biasa, inspirasi dari kisah diatas mengingatkan saya untuk belajar berhati-hati dalam berkata-kata…jadi berusaha untuk mengeluarkan kata-kata yang bermakna positif bukan negatif…
Kita tahu kita bahwa adat tiga waktu dalam kehidupan ini, ada masa lalu, sekarang dan masa depan…Masa lalu telah dilewati dan takkan kembali lagi namun kenangan akan tetap abadi, masa sekarang sedang kita jalani dan senantiasa berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkan makna, serta masa depan adalah masih rahasia…
Waktu yang tepat adalah saat ini, bukan kemarin atau besok..tapi hari ini tanpa kecuali…
Saya minta izin sama Pakde saya mau pakai kata “lain kali” dalam perubahan diri saya saat ini…thanks b4…
very.very,very,…touchy pakde,dont know what to say,but thanks..
Pakde, terima kasih banyak atas sharingnya yang sangat mengugah semangat saya. “Lain kali…..”hahaha, akupun akan segera menggunakan kata-kata mujarab ini pak de

Best regard,
Bintang
http://elindasari.wordpress.com
Wah, wah terima kasih banyak atas sharingnya pakde. Saya akan langsung menggunkan kata-kata mujarab ini, “Lain kali…..”, sungguh menggugah

best regard,
Bintang
http://elindasari.wordpress.com